Showing posts with label Tazkirah Ramadhan. Show all posts
Showing posts with label Tazkirah Ramadhan. Show all posts

Sunday, August 14, 2011

Taubatnya Sang Pembunuh

Manakala seorang hamba berbuat dosa, durhaka, kesalahan atau keburukan, Allah berfirman kepadanya, "Wahai hamba-Ku, kembalilah kepada-Ku. Bertaubatalah niscaya Aku akan mengampunimu."

Allah Ta'ala telah berfirman dalam Kitab-Nya :

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah, "Hai hamba-hamba-Ku yang melampui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar [39] : 53)

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat Allah, lalu memohon amun atas dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah". (QS. Ali-Imran [3] : 135)

Tiada yang memaafkan kekurangan-kekurangan, kecuali hanya Allah, dan tiada yang mengampuni dosa-dosa, selain hanya Allah.

وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

"Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui."(QS. Ali-Imran [3] : 135)

Wahai saduraku yang muslim, yang bertaubat, lagi kembali ke jalan-Nya, berikuti ini sebua berita dari Rasulullah shallahu alaihi wa sallam, pembawa hidyah yang di dalamnya diceritakan kisah tentang seorang lekaki yang hidup pada masa silam. Lelaki tersebut telah melakukan dosa yang sangat jelas dan kekeliruan yang fatal serta mengerjakan suatu kejahatan yang paling besar dalam sejarah umat manusia.

Dalam sebuah hadist yang dikategorikan oleh Bukhari dan Muslim secara sepakat disebutkan bahwa dahulu di kalangan orang-orang yang sebelum kalian —yakni kaum Bani Israel— ada seorang lelaki yang telah membunuh 99 orang.

Lekaki ini telah berlumuran darah. Jari-jemarinya, pakaiannya, tangan, dan pedangnya, semuanya basah oleh darah, karena telah membunuh 99 orang dari kalangan orang-orang yang jiwanya terpelihara.

Padahal seandainya semua penduduk bumi dan penduduk langit bersatu padu untuk membunuh lelaki muslim, tentulah Allah akan mencampakkan mereka semua dengan mukadi bawah ke dalam Neraka. Maka terlebih lagi dengan seseorang yang datang dengan pedang yang terhunus, sikap yang kejam, jahat, lagi emosi, akhirnya dia membunuh 99 orang.

Lelaki pelaku kejahatan ini telah melumuri dirinya dengan darah banyak orang dan membinasakan banyak jiwa yang diharamkan oleh Allah membunuhnya serta mencabut nyawa mereka. Sesudah dirinya berlumuran dengan kejahatan dan dosa besar ini, ia menyadari kesalahannya terhadap Allah.

Ia pun berpikir tentang pertemuannya dengan Allah nanti, teringat saat hari kedatangannya kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan semua dosanya. Dia menyakini bahwa tiada yang mengampuni dosanya, yag menghukumnya, yang menghisabnya, dan yang membenci seorang hamba karena dosa, kecuali Allah Ta'ala.

"Selanjutnya, ia berpikir untuk kembali dan bertaubat kepada-Nya agar Dia membebaskannya dari neraka.

Sesungguhnya para raja pun,

bila budak-budaknya telah beruban dalam perbudakannya, mereka pasti akan memerdekannya, dengan pembebasan yang baik,

Dan Engkau, wahai penciptaku jauh lebih murah daripada itu,

Sekarang sungguh aku telah beruban dalam penghambaan diri,

maka bebaskanlah diriku dari Neraka".

Maka keluarlah ia dengan pakaian yang berlumuran darah, sedang pedangnya masih meneteskan darah segar dan jari-jemarinya berbelepotan darah. Ia datang bagaikan seorang yang mabuk, terkejut, lagi ketakutan seraya bertanya-tanya kepada semua orang, "Apakah aku masih bisa diampuni?"

Dia menyadari bahwa tiada yang dapat memeri fatwa dalam masalah ini, kecuali hanhya orang-orang yang ahli dalam hukum Allah. Ia pun pergi ke sana, ke tempt rahib itu, seorang ahli ibadah dari kalangan kaum Bani Israel yang belum pernah merasakan manisnya limu dan tidak pernah membekali dirinya dengan pengetahuan, penelitian, dan penguasaan terhadap masalah-masalah agama. Dia hanya melakukan ibadahnya menurut tata cara yang dibuat-buatnya sendiri tanpa ada dalil, baik dari syariat maupun agama.

وَرَحْمَةً وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا ۖ

"Dan mereka mengada-adakan kerahiban, padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka, tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestina." (QS. Al-Hadid [57] : 27)

Sesungguhnya agama itu bila tidak dibarengi dengan cahaya hidayah dan ilmu sama dengan kesesatan dan bid'ah yang bertumpang-tindih antara yang satu dan yang lainnya.

Ia pun pergi dengan langkah yang cepat dengan penuh penyesalan, karena dosa-dosanya yang telah dilakukan, lalu ia mengetuk pintu kuil si rahib itu.

Rahib itu mengharamkan atas dirinya daging, makanan yang baik, pakaian yang baik, dan kawin itu, padahal Allah tidak mengharamkan semuanya itu atas dirinya. Dia lakukan hal itu, karena kejahilannya tentang maksud Allah Ta'ala. Ia pun keluar menyambutnya.

Lelaki penjahat ini masuk dan ternyata pakaiannya masih berlumuran arah segar, membuat si rahib kaget, dan terkejut bukan kepalang. Si rahib berkata, "Aku berlindung kepada Allah dari kejahatanmu".

Sambutan ini jelas bukan tata cara yang biasa digunakan oleh para ulama dan para da'i yang menghendaki hidayah bagi manusia, karena pintu Allah selalu terbuka, pemberiannya senantiasa datang dan pergi, pahala-Nya senantiasa terbuka pada malam hari untuk menerima taubat orang-orang yang berdosa pada siang harinya, dan senantiasa terbuka pada siang hari untuk menerima taubat orang-orang yang berdoa pada malam harinya, hingga matahari terbit dari arah tenggelamnya (hari Kiamat).

Si penjahat bertanya, "Wahai rahib ahli ibadah, aku telah membunuh 99 orang, maka masih adakah jalan bagiku untuk bertaubat?" Rahib jahil itu menjawab, "Tiada taubat bagimu".

Mahasuci Allah, apakah engkau menutup pintu yang selalu dibuka oleh Allah? Apakah engkau memutuskan tali yang telah dijulurkan oleh Allah? Apakah engkau mencegah hujan yang telah dirutunkan oleh Allah? Apakah engkau menutup jalan masuk yang telah Allah buat?

Padahal Allahlah yang menciptakan. Allah lah yang telah menetapkan, Allah yang memberikan ampunan, Allahlah yang menghisab, Allahlah yang berbisik kepada seorang hamba pada hari yang tiada bermanfaat lagi harta benda dan anak-anak, kecuali orang yang bersih, lalu Allah menyuruhnya mengakui dosa-dosanya, kemudian Allah mengampuninya, jika Dia menghendaki. Maka apakah urusanmu, hari rahib, sehingga engkau ikut campur dalam urusan antara para hamba dengan Tuhannya.

Apakah engkau memang seorang yang ahli untuk memberi fatwa dalam masalah ini? Bukan, engkau bukanlah seorang yang ahli dalam bidang ini. Hal ini hanya bisa ditangani oleh para ulama yang mengamalkan ilmunya lagi mengetahui tujuan syari'at-Nya.

Akhirnya si penjahat ini putus asa memandang kehidupan ini. Di matanya dunia ini terasa gelap, kehendak dan tekadanya melemah, dan keindahan yang terlihat diwajahnya menjadi buruk. Ia pengangkat pedangnya dan membunuh rahib ini, sebagai balasan yang setimpal untuk guna menggenapkan 100 orang manusia yang telah dibunuh.

Selanjutnya, ia keluar menemui orang-orang guna menanyakan kembali mereka, bukan karena alasan apapun, melainkan karena jiwanya sangat menginginkan untuk taubat dan kembali ke jalan Tuhannya ser ta menghadap kepada-Nya. Ia bertanya kepada mereka, "Masih adakah jalan untuk bertaubat bagiku?"

Sehubungan dengan pengertian ini, Allah Ta'ala menegaskan dalam firman-Nya :

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

"Allah menyatakan bahwasanya tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, yagn menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu)." (QS. Ali-Imran [3] : 18)

Si penjahat itu pergi dan menemui orang alim itu, yang berada di dalam majelisnya sedang mengajari generasi dan mendidik umat.

Orang alim itu pun tersenyum menyambut kedatangannya, begitu melihatnya, ia langsung menyambutnya dengan hangatdan mendudukkannya di sebelahnya setelah memeluk dan menghormatinya. Ia bertanya, "Apakah keperluanmu datang ke mari?" Ia menjawab, "Aku telah membunuh 100 orang yang terpelihara darahnya, maka masih adakah jalan taubat bagiku?".

Orang alim itu balik bertanya, "Lalu siapakah yang menghalang-halangi antara kamu dengan taubat dan siapakah yang mencegahmu dari melakukan taubat? Pintu Allah terbuka lebar bagimu, maka bergembiralah dengan ampunan, "Bergembiralah dengan perkenan dariNya dan bergembiralah dengan taubat yang mulus". Ia berkata, "Aku kepada Allah semoga Dia menerima taubatmu".

Orang alim itu berkata kepadanya, "Sesungguhnya engkau tinggal di kampung yang jahat, karena sebagian kampung dan sebagian kota itu adakalanya memberikan pengaruh untuk berbuat kedurhakaan dan kejahatan bagi pra penghuninya. Barangsiapa lemah imannya ditempat seperti ini, maka ia akan mudah berbuat durhaka dan terasa ringanlah baginya semua dosa, serta menggampangkannya untuk melakukan tindakan menentang Tuhannya." Wallahu'alam.

Eramuslim

Friday, August 5, 2011

Ramadan jangan ia berlalu begitu sahaja sebagaimana peringatan Rasulullah SAW

Sabdanya bermaksud,

Dari Ka’ab Bin ‘Ujrah (ra) katanya: Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) bersabda: Berhimpunlah kamu sekalian dekat dengan mimbar. Maka kamipun berhimpun. Lalu beliau menaiki anak tangga mimbar, beliau berkata: Amin. Ketika naik ke anak tangga kedua, beliau berkata lagi: Amin. Dan ketika menaiki anak tangga ketiga, beliau berkata lagi: Amin. Dan ketika beliau turun (dari mimbar) kamipun bertanya: Ya Rasulullah, kami telah mendengar sesuatu dari tuan pada hari ini yang kami belum pernah mendengarnya sebelum ini. Lalu baginda menjawab:

“Sesungguhnya Jibrail (as) telah membisikkan (doa) kepadaku, katanya: Celakalah orang yang mendapati bulan Ramadhan tetapi dosanya tidak juga diampuni. Lalu aku pun mengaminkan doa tersebut. Ketika aku naik ke anak tangga kedua, dia berkata lagi: Celakalah orang yang (apabila) disebut namamu di sisinya tetapi dia tidak menyambutnya dengan salawat ke atasmu. Lalu aku pun mengaminkannya. Dan ketika aku naik ke anak tangga yang ketiga, dia berkata lagi: Celakalah orang yang mendapati ibubapanya yang sudah tua atau salah seorang daripadanya, namun mereka tidak memasukkan dia ke dalam surga. Lalu aku pun mengaminkannya.

[HR Al-Hakim dan Sanadnya Sahih]

Monday, August 1, 2011

Apabila kamu yang dihina atau dipukul orang, maka katakanlah: "Aku puasa

Salam Sejahtera

Hadis Sahih Muslim Jilid 2. Hadis Nombor 1117.

Dari Abu Hurairah r.a., katanya Rasulullah saw. bersabda : "Allah 'Azza wa Jalla berfirman: "Setiap amal anak Adam teruntuk baginya kecuali puasa;

puasa itu adalah untukku dan aku akan memberinya pahala. Puasa itu ialah perisai. Apabila kamu puasa janganlah kamu rosak puasamu itu dengan sanggama, dan jangan menghina orang.

Apabila kamu yang dihina atau dipukul orang, maka katakanlah: "Aku puasa." Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang puasa lebih harum di sisi Allah pada hari kiamat kelak daripada bau kasturi. Dan bagi orang puasa ada dua kegembiraan. Apabila dia berbuka dia gembira dengan bukaannya dan apabila dia menemui Tuhannya (meninggal) dia gembira dengan puasanya

Sunday, July 31, 2011

Tahun Ini, Hari Ramadhan Terpanjang Dan Terpanas Di Arab


Jazirah Arab pada bulan Ramadhan mendatang mungkin akan menjadi sesuatu yang luar biasa di sana. Menurut seorang ahli kalender di Dubai, Muslim yang berpuasa selama Ramadhan tahun ini akan mengalami hari terpanjang bulan puasa dalam 26 tahun terakhir.

"Hari pertama Ramadhan akan menjadi hari terpanjang bagi Muslim kerana harus berpuasa selama 14 jam dan 50 minit," kata Ashraf Nourul Haq Ashraf, kepala Departemen Urusan Islam di Kalender dan Kegiatan Amal di Dubai.

Ashraf mengatakan Muslim akan berpuasa dengan durasi terpanjang selama Ramadan ini, dalam 26 tahun terakhir.

Baca lagi

Monday, July 25, 2011

I’dad Ramadhan, Persiapan Ramadhan | dakwah.info

Salam, Ramadhan dah nak tiba tak lama lagi.. jom mari kita membuat persiapan akhir sebelum memasuki bulan Ramadhan yang mulia ini… Ayuh kita bersiap dari segala aspek untuk meraih keberkatan Bulan Ramadhan yang Mulia ini… Sungguh banyak ganjaran yang Allah nak beri pada kita..

Ayuh kita bersiap!!!!

1- I’dad Ruhi Imani, yakni persiapan ruh keimanan.

Orang-orang yang sholeh biasa melakukan persiapan ini seawal mungkin sebelum datang Ramadhan. Bahkan mereka sudah merindukan kedatangannya sejak bulan Rajab dan Sya’ban. Biasanya mereka berdoa : “Ya Allah, berikanlah kepada kami keberkatan pada bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami kepada Ramadhan.”

Dalam rangka persiapan ruh keimanan itu, dalam surah At-Taubah Allah melarang kita melakukan berbagai maksiat dan kedzhaliman sejak bulan Rajab.

Tapi bukan berarti di bulan lain dibolehkan. Hal ini dimaksudkan agar sejak bulan Rajab kadar keimanan kita sudah meningkat. Boleh dikiaskan,bulan Rajab dan Sya’ban adalah masa pemanasan *(warming up),*sehingga ketika memasuki Ramadhan kita sudah bisa bisa menjalani ibadah shaum dan sebagainya itu bak sudah terbiasa.

2- I’dad Jasadi, yakni persiapan fizikal.

Untuk memasuki Ramadhan kita sebaiknya menyediakan fizikal yang lebih kuat dan bersedia daripada biasanya. Sebab, jika fizikal lemah, boleh menjadikan kemuliaan yang dilimpahkan oleh Allah swt. pada bulan Ramadhan tidak dapat kita raih secara optimal.

Maka, sejak bulan Rajab Rasulullah dan para sahabat membiasakan diri melatih fizikal dan mental dengan melakukan puasa sunnah, banyak berinteraksi dengan al- Qur’an, biasa bangun malam (qiyamul-lail), dan meningkatkan aktiviti seketika berkecimpung dalam masyarakat.

3- I’dad Maaliyah, yakni persiapan harta.

Jangan salah faham, persiapan harta bukan untuk membeli keperluan berbuka puasa atau hidangan di hari raya sebagaimana tradisi kita selama ini. Mempersiapkan harta adalah untuk melipatgandakan sedekah, karena Ramadhan padanya disediakan peluang yang banyak untuk bersedekah.

4- I’dad Fikri wa Ilmi, yakni persiapan intelektual dan keilmuan.

Agar ibadah Ramadhan dapat direbut seoptima mungkin, diperlukan bekal wawasan dan tashawur (persepsi) yang benar tentang Ramadhan. Antaranya dengan membaca berbagai bahan rujukan dan menghadiri majlis ilmu tentang Ramadhan.

Kegiatan ini berguna untuk mengarahkan kita agar beribadah sesuai tuntunan Rasulullah saw. seketika Ramadhan. Menghafal ayat-ayat dan doa-doa yang berkait dengan pelbagai jenis ibadah, atau menguasai berbagai masalah dalam fiqh puasa, juga penting untuk dipersiapkan.

Baca lagi

follow on fb

share

Share |

BLOGGER PERAK

BLOG BLOG PANAS

BLOG PIMPINAN PAS/PR

BLOG MUSLIMAT

Blog Masjid

Blogroll

Archives

Related Posts with Thumbnails

Header bergerak